Seribu ini untukmu le

berapa harganya le? “seribuuu!!” jawabmu penuh semangat, atau keputus asaan aku tak tau.
ah … kau bilang seribu, tapi tahukah kau berapa jumlah “0″ diangka 1000? aku yakin kau tak tau le. Emang kamu dah bisa baca po? dah sekolah? lihat aja tubuh mungilmu itu. Tubuh mungil mu itu menandakan bahwa kau belum cukup umur untuk bisa masuk sekolah le dan kau tak bisa membohongiku. Namun seandainya kau cukup umur pun akan kah kau sekolah? atau tetap bergumul disini, di jalan ini, mempertahankan hidup?
sedangkan kau le, kau belum lama merasakan hidup di dunia ini dan sekarang harus berjuang keras seperti ini. Aku hanya bisa berharap kau tak menyalahkan tuhan karena telah dilahirkan didunia ini le…
Disini bukan tempatmu le, tak seharusnya kau berada disini. Seharusnya kau bermain gundu dan petak umpet dengan teman sebayamu, disuapin ibumu dan digendong bapakmu, tidur dan mimpi indah berselimut kehangatan dirumahmu. Ataukah kau sudah lupa dengan itu semua le? atau kau malah belum pernah merasakannya le?
Mengapa kau berada disini le, menjajakan berita pakdhemu yang sedang bersiap untuk audisi tahun depan itu dengan mengatasnamakanmu. Namun tetap saja kau akan berada disini le, karena pakdemu hanya mengatasnamakanmu, bukan memperjuangkanmu.
Dan kau tetap disini le. “ini lebih baik daripada meminta-minta, daripada mencuri” katamu. Meskipun dengan begini kau juga telah membantu orang tuamu tapi tetap tak seharusnya kau berada disini le.
Dan hatiku hanya mampu menangis melihat kau masih disini le, karena aku tak mampu berbuat apapun untukmu. Hanya menukar uang seribu dengan koran yang ada ditanganmu dan terus begitu setiap ketemu kamu. Hanya seribu ini le, hanya seribu … dan hati ini tetap hanya bisa menangis untukmu le …
----------------------------------------- le= thole = sebutan untuk anak kecil dalam bahasa jawa
muse - showbiz
Blogged with the Flock Browser
Posted in me, myself and i | Tags: anak kecil, loper koran, seribu, traffic light
8 Comments »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL










ketika logika dah tak mampu lagi kuajak berpikir…
[dah capek ngumpat2 pemerintah...]
Comment on June 11, 2008 @ 4:02 pm
sungguh membuat miris ati, apa para pemimpin kita tak pernah melihat pemandangan seperti ini yang acap kali kita jumpai ya! (duh…ngomong beginian sudah serasa ngilu)
Comment on June 13, 2008 @ 8:01 am
Hiks…hiks…
Jadi inget Kafin, pedih banget. Padahal si thole itu juga berhak dapet cinta, kasih-sayank n fasilitas.
Comment on June 13, 2008 @ 11:46 am
kasian…
Comment on June 14, 2008 @ 9:58 am
salut..kalo bisa 10 ribu mas…salam kenal semoga saling silaturahmi
Comment on June 15, 2008 @ 4:06 pm
Nice post mas… Kasian ya anak sekecil itu…Ya Allah, semoga menjadi anak yg kuat dan hidupnya sukses dunia akhirat kelak (apapun bisa terjadi)…amien..
Comment on June 16, 2008 @ 9:53 pm
anak kecil, belum mikir
bukan pemerintah aja yang salah
dimanakah moral orangtua?
membuat anaknya menjadi pengemis
dimanakah moral bangsa kita?
Comment on June 17, 2008 @ 8:12 am
ah…itu mah biasa mas…
mangkanya ke jakarta dunk….
banyak kayak gitu…
kenapa musti dikasianin?
Comment on July 3, 2008 @ 2:04 pm