Gorengan
Gorengan … istilah yang populer untuk menyebut makanan/jajan yang di hidangkan dengan cara digoreng dulu sebelumnya. Yang termasuk gorengan biasanya Tempe, pisang tahu /tahu isi, ketela, bakwan dan semua yang bisa di goreng, baik di goreng dengan dibalut tepung ato di goreng dengan cara wudo (baca: telanjang) alias cuman di bumbuin aja. Gorengan bisa di hidangkan sebagai supporting menu atau pun main menu. Tak jarang pula gorengan dipake hanya untuk sekedar cemilan yang bisa untuk menemani aktifitas apapun (kecuali berenang tentunya).
Saya merupakan satu dari sekian banyak orang yang sangat menyukai gorengan. Namun beberapa hari ini akses untuk bisa menikmati gorengan cukup terganggu. Seperti yang terjadi 2 harian ini. Ketika hasrat untuk menikmati gorengan muncul tiba-tiba dan tanpa di duga, seperti biasa saya langsung meluncur ke pusat gorengan yang ada di gang universitas yang menelurkan para pendidik atau yang lebih di kenal dengan gang guru. Tepat di sebelah utara gang guru ada penjual gorengan yang biasanya telah siap dengan setumpuk gorengan hangat siap saji. Namun yang terjadi, ternyata gorengan yang saya rindu dah lenyap, dah habis, entah makhluk apa yang telah memborong semua gorengan itu dan tidak menyisakan satu gorengan pun untuk saya. Dengen perasaan yang masih tidak keruan, tidak terima dengan perlakuan orang lain yang telah memborong gorengan itu, saya pun langsung menuju ke gang alamanda. Di pertigaan ujung gang alamanda juga ada penjual gorengan hangat yang siap saji. Namun sesampainya disana saya makin terperanjat. Ternyata gorengan hangat yang saya damba dah habis juga. ahhhh rasanya ingin menjerit dan menumpahkan seluruh sumpah serapah ini.
Dengan langkah gontai (padahal saya naek motor) saya pun pulang ke kost. Masuk gang kost saya lewat depan warung dan saya putuskan untuk beli gorengan nya disana saja, mseki sebenernya males beli gorengan disana karena gorengannya dah dingin, gak anget gak seperti gorengan di 2 pusat perbelanjaan gorengan tadi. Karena jika kodisi gorengan yang sudah tidak anget maka sensasi nya pun akan sedikit berkurang. “Mas beli gorengan nya dong, 4000“, ucap saya lirih. “Wah mas, mbok kalo cuma mo beli gorengan jangan disini, mbok belinya di gang guru aja ato yang di gang alamanda.” kata mas penjual di warung itu. saya cuma ngucap “NgeQ” dalam hati. Hilang sudah hasrat saya untuk menimati gorengan. Ahh gorengan … saya merindukanmu …
Jadi teringat kenangan lama ketika di samping kost saya masih ada penjual angkringan yang ngontrak disana. Pas waktu itu adalah waktu keemasan akses gorengan betul-betul memanjakan saya. Gimana tidak, lha saya tinggal melangkah dikit, bisa membeli gorengan sejumlah apapun dengan harga yang cenderung lebih miring dari harga user seharusnya, maklum tetangga, namun dengan catatan sebelum gorengan ini di bawa ke tempat mangkal nya angkringan ini di samping lapangan sana. Yah jaman keemasan ini menjadi jaman perunggu ketika dia sudah tidak mengontrak lagi di samping kost saya sekitar setahun yang lalu.
Sekarang, saya cuma bisa berharap, di tanggal tua ini, keajaiban datang, dan tanpa dinyana (?) tiba tiba gorengan muncul di kantor saya di meja sebelah utara sana. Pusat gorengan yang sudah ternama di kantor saya. Amin.
5 Comments »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL








hahaha…, wah hari ini supplier gorengannya libur je.. tuh cuman tangan hampa.
btw, user dan password gorengan-nya apa ya pakdhe..???
Comment on February 28, 2008 @ 8:26 am
Moga mbak dindit mendengarkan keluh kesah rakyat codesign yang sedang sakaw gorengan…
Mbak..udah 3 hari ga makan gorengan mbak..badan nggigil, keringet dingin, pikiran kaco balo nih!
Comment on February 28, 2008 @ 8:49 am
basa tulisanmu itu lho pakde… gak nguwati…
semoga jerit dan keluh kesahmu di dengar para simbok codesign… kekekkeke
Comment on February 29, 2008 @ 11:39 am
sakau nih…
sakau nih…
sakau GORENGAN….
Comment on March 1, 2008 @ 9:52 am
addicted mode : on
hari inih sakaw lagi ya Yah?
hihihihi…
Comment on March 1, 2008 @ 11:59 am